Model Komunikasi Interpersonal
C.G.P.Amarta _03863
1. Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya“.
Ganjaran yang dimaksud adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah akibat yang negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menimbulkan efek-efek tidak menyenangkan. Maka semakin besar ganjaran yang dia peroleh dalam interaksi dengan seseorang semakin baik pula hubungannya, dan tentunya semankin ingin menjalin hubungan interaksional dengan orang tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila lebih besar Biaya yang diperoleh dalam sebuah interaksi, maka, interaksi itupun tak akan bertahan lama karena orang itu tidak merasa nyaman.
2. Model Peranan
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya. Apabila individu tidak melakukan perannya sesuai dengan bayangan atau harapan masyarakat, tentu akan terjadi ketidaknyamanan, atau bisa dianggap tidak normal. Misalnya saja seorang guru SD, ya dandannya harus rapi dan bersih, penampilan bisa dicontoh oleh murid-muridnya, kalo seorang guru memiliki persing di seluruh badan, bertato, dan memakai baju rombeng, tentu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat atau bisa dikatakan bahwa ia tidak sesuai dengan perannya sebagai seorang guru.
3. Model Permainan
Dalam diri setiap manusia, seperti dikutip Collins (1983), memiliki tiga status ego. Sikap dasar ego yang mengacu pada sikap orangtua (Parent= P. exteropsychic); sikap orang dewasa (Adult=A. neopsychic); dan ego anak (Child = C, arheopsychic). Ketiga sikap tersebut dimiliki setiap orang (baik dewasa, anak-anak, maupun orangtua).
Sikap orangtua yang diwakili dalam perilaku dapat ter1ihat dan terdengar dari tindakan maupun tutur kata ataupun ucapan-ucapannya. Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP). Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).
Setiap orang juga menurut Berne memiliki sikap orang dewasa. Sikap orang dewasa umumnya pragmatis dan realitas. Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, bersifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya.
Sikap lain yang dimiliki juga adalah sikap anak-anak. Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.
Ketiga ego ini terus dimainkan dalam diri manusia, tergantung situasi, kondisi serta tergantung dengan siapa dia melakukan interaksi tersebut.
4. Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.
Model interaksional ini mengacu pada perspektif interaksi simbolik yang dikembangkan oleh ilmuwan sosial untuk menjelaskan komunikasi. Konsep-konsep penting yang digunakan adalah diri (self ), diri yang lain (others), simbol, makna, penafsiran, dan tindakan.
Sesuai dengan perspektif interaksi simbolik, model interaksional dalam komunikasi mengatakan bahwa orang-orang sebagai peserta komunikasi bersifat aktif, kreatif dan reflektif, menafsirkan, dan menampilkan perilaku kompleks yang sulit diprediksi.
Model interaksional sesungguhnya sulit untuk digambarkan melalui sebuah bagan atau diagram, karena sifatnya yang kualitatif, nonlinear, dan nonsistemik, oleh karena itu model ini lebih mudah dideskripsikan secara verbal. Model ini tidak mengklasifikasikan fenomena komunikasi menjadi berbagai unsur atau tahapan sebagaimana dijelaskan dalam model-model komunikasi linear dan mekanistis.
Blumer (seorang penganut interaksional) mengemukakan 3 premis yang menjadi premis model ini sebagai berikut :
Pertama : manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungan sosialnya (simbol verbal, simbol non-verbal, lingkungan fisik).
Kedua : makna itu berhubungan langsung dengan interaksi sosial yang dilakukan individu dengan lingkungan sosialnya.
Ketiga : makna diciptakan, dipertahankan, dan diubah lewat proses penafsiran yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya.
Oleh karena itu-lah individu terus berubah, dan masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi variabel penting yang mengubah perilaku manusia adalah interaksi, bukan struktur masyarakat.
Struktur itu tercipta dan berubah karena interaksi manusia.
Menurut model interaksional para pesertanya adalah orang-orang yang mengembangkan potensi dirinya sebagai manusia melalui interaksi dengan sesama manusia (interaksi sosial) tepatnya melalui apa yang disebut dengan pengambilan peran orang lain (role-taking). Diri (self) berkembang lewat interaksi dengan orang lain, dimulai dari lingkungannya yang paling dekat seperti keluarga (significant others) dalam suatu tahap yang disebut tahap Permainan (play stage) dan terus berlanjut hingga ke lingkungan yang lebih luas (generelized others) dalam suatu tahap yang disebut Pertandingan (game stage). Dalam interaksi tersebut individu dapat melihat dirinya melalui peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima yang memiliki kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interaksional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan. Itulah sebabnya muncul konsep diri berdasarkan bagaimana orang lain memandang diri individu tersebut.
Model interaksional menganggap manusia jauh lebih aktif. Komunikasi di sini digambarkan sebagai pembentukan makna, yaitu penafsiran atas pesan atau perilaku orang lain oleh para peserta komunikasi. Beberapa konsep penting yang digunakan adalah diri sendiri, diri orang lain, simbol, makna, penafsiran, dan tindakan. Contoh kasus : Dalam keluarga interaksi terjadi dalam macam-macam bentuk. Yang mengawali interaksi tidak mesti dari orang tua kepada anak, tetapi bisa juga sebaliknya, dari anak kepada orang tua, atau dari anak kepada anak. Interaksi yang terjadi antar individu tidak sepihak. Antar individu saling aktif, reflektif, dan kreatif dalam memaknai dan menafsirkan pesan yang dikomunikasikan. Semakin cepat memberikan pemaknaan dan penafsiran terhadap pesan yang disampaikan semakin memperlancar kegiatan komunikasi.
Model interaksional menganggap manusia jauh lebih aktif. Komunikasi di sini digambarkan sebagai pembentukan makna, yaitu penafsiran atas pesan atau perilaku orang lain oleh para peserta komunikasi. Beberapa konsep penting yang digunakan adalah diri sendiri, diri orang lain, simbol, makna, penafsiran, dan tindakan. Contoh kasus : Dalam keluarga interaksi terjadi dalam macam-macam bentuk. Yang mengawali interaksi tidak mesti dari orang tua kepada anak, tetapi bisa juga sebaliknya, dari anak kepada orang tua, atau dari anak kepada anak. Interaksi yang terjadi antar individu tidak sepihak. Antar individu saling aktif, reflektif, dan kreatif dalam memaknai dan menafsirkan pesan yang dikomunikasikan. Semakin cepat memberikan pemaknaan dan penafsiran terhadap pesan yang disampaikan semakin memperlancar kegiatan komunikasi.
Daftar pustaka:
Kam. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-3 – Cetakan 1. Jakarta : Balai Pustaka.
Modul Pengantar Ilmu Komunikasi Drs. Iswandi, M.Si. Dosen Universitas Mercu Buana
Modul Pengantar Ilmu Komunikasi Drs. Iswandi, M.Si. Dosen Universitas Mercu Buana
http://psikologi.or.id/psikologi-umum-pengantar/pengertian-teori-tahap-jenis-dan-faktor-yang-mempengaruhi-hubungan-interpersonal.htm
http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/19/analisis-transaksional-eric-berne/
http://wsmulyana.wordpress.com/2009/01/19/analisis-transaksional-eric-berne/
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 comments:
Posting Komentar