Peregrinasi, Pencarian Tiada Henti
“Kita memang berjalan bersama... namun kita berada pada lajur yang berbeda…yang mempertemukan kita pada satu Allah dengan banyak rupa, sehingga kita kaya ketika mulai menyatukan cerita ”
Peregrinasi..Pathuk-Wonogiri..
Sejak semula aku sudah yakin bahwa Tuhan akan mengantarkanku sampai pada tujuan itu. Tak ada perasaan khawatir, takut atau cemas saat q akan memulai perjalananku, selain egoku.. karena ku menyadari bahwa aku anak yang cenderung egois dan individualis, dan aku takut bila akhirnya nanti memaksakan egoku pada rekan seperjalananku. Meski ternyata sempat terbukti.
Ambisiku untuk mencapai (tujuan semu )Gua Maria Sendang Ratu Kenya, sepertinya telah menghambat prosesku sendiri.. jujur.. yang ku dapat dalam peregrinasi ini hanya sampai pada tataran kognitif.. inspirasi dan pemikiran baru, bukan pada kekuatan iman dan ketenangan batiniah.
Aku merasa, peregrinasi ini hanyalah simulasi, bagi peregrinasiku sesungguhnya, yaitu dalam perjalanan hidupku, dimana aku disadarkan, betapa mudahnya menjalani semuanya ketika aku mengandalkan Allah.
Kau tau mengapa? Sebab sepanjang peregrinasiku dari Pathuk-Wonogiri, ku merasakan Tuhan terlalu memanjakanku (mungkin karena aku memang manja sehingga Tuhan berlaku demikian agar ku tak banyak mengeluh). Ia memberiku banyak penghiburan. Di awal perjalanan dia membuatku takjub dengan pemandangan sepanjang jalan di tepi hutan wanagama, pohon besar di kanan-kiri jalan, dahan rindang bertemu membuat sebuah jalinan, daun-daun yang berguguran laksana sakura di film-film dorama, pohon-pohon besar yang hidup bersama benalu hingga rimbun batangnya namun kering daunnya, serta pemandangan sungai alas bunder yang hijau, tenang, dan teduh. Aku takjub dan memuliakan karyaNya yang amat indah dan luar bisa itu. Hatiku berkonsolasi seketika, dan semangatku kembali membara.
Tuhan paham apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan. Ketika aku lapar, dan mulai tak sabar, Tuhan menggerakan hati orang-orang yang kami mintai makan sehingga mau memberi kami makan, dan kami tak berkekurangan untuk itu. Tuhan pun tak membiarkan kami tidur dibawak bintang-bintang ataupun rembulannya yang indah. Ia menempatkan kami pada tempat yang aman dari serangan penjahat, dan menempatkanku dibalik tembok yang mellindungiku dari dinginnya malam, dan membuatku tertidur lelap, meski hanya beralas tikar.
Ketika weaker tak berbunyi, Ia menyuruh malaekatNya untuk membangunkanku dengan lembut, sehingga q tetap punya waktu untuk berdoa dan menyiapkan diri sebelum perjalanan dimulai kembali, dan tentunya, bisa membangunkan temanq yang lain.
Doa Bapa Kami terus bergaung dalam hatiku dan kurasakan sungguh, bahwa Allah menyayangiku, ia tidak meninggalkanku saat ku mulai tertinggal oleh rombongan, ia menggenggam hatiku agar tak jatuh, ia memapah langkahku tapak demi setapak. Kala kaku kakiku ia tetap membuatku bisa melangkah, meski sakit, q paksakan diriku. Saat ku mulai terpusat pada kakiku yang lelah, dia mengalihkan perhatianku, ia berbisik pada orang gila yang sedari tadi hanya duduk mengawasi jalan, namun tiba2 berdiri dan mengejutkanku yang duduk di seberangnya. Ku rasa teman2ku yang lain juga terkejut. Aku takut. Ku ajak teman2ku kembali berjalan. Yang terpikir olehku saat itu adalah menjauh dari orang gila itu. Lama-lama orang gila itu menyusul kami, lebih cepat, berlari dan mendahului, ketika kami mampu mengawasinya, kami putuskan untuk beristirahat di samping pabrik. Sempat pemilik pabrik keluar dan menghirup udara dan melihat kami, membiarkan kami dan kembali masuk dalam peraduannya. Saat orang gila itu mulai berbalik arah kepada kami, ku putuskan mengajak teman-temanku untuk masuk ke dalam pabrik itu, mengharap perlindungan dan belas kasihan. Tuhan mengetuk hatinya, dan memperbolehkan kami masuk dengan kebingungan dalam sikap dinginnya. Setelah kami lihat orang gila itu agak jauh di belakang, kami melanjutkan perjalanan, pemilik pabrik itu mengawasi kami sembari memelototi orang gila itu sehingga tak mengikuti kami, tx pak. Lalu, kami terus berjalan dan olalalla… q baru sadar… q lupa dengan sakit di kakiku.. dan rasanya sakit itu juga sudah menghilang (Tuhan punya cara yang unik untuk menyembuhkanku)
Perjalanan terus ku tapaki bersama teman2ku, kami tak pernah terpisah jauh lagi sejak itu. Sampai di bedoyo yang memiliki medan laksana ombak yang bergelombang, jalan ini berbukit dan berlembah, tanjakan dan turunan, ku tetap kuat melangkah meski kadang terseok dan harus berhenti untuk beristirahat. Begitu juga temanku, yang mulai lemah dan lebih terseok, lebih sering meminta istirahat. Sempat ku ingin menggerutu, namun ku telan dalam hatiku. Lalu Tuhan mengiburku lagi, Dia membuatku menemukan sesuatu, bungkus rokok, yang mengingatkanku pada masa kecilku, ku pungut bungkus rokok itu, melipatnya dan menimangnya, lipatan bungkus rokok itu mengingatkanku pada teman2 sepermainanku, mengingatkanku pada kakekku (alm) yang perokok berat, dan mengingatkanku pada kejadian di bulan januari 2009. Namun, ingatan masa kecil itu lebih mendominasi, dan menggembirakan hatiku, mengingatkanq pada sensasi mencari, menemukan dan berebut bungkus rokok dari adikku dan selalu berlomba mencari yang terbanyak, menjadi pengalaman yang lucu dan konyol. Sepanjang jalan, q melihat banyak pohon pisang beserta buahnya yang belum matang.. hm… ingin rasanya q petik dan ku makan.. karena merasa sedikit lapar, namun tetap ku tahan, ku doakan dank u sorakkan.
Langkah demi langkah ku tapakkan, hingga pada saat yang tak ku duga, Allah ternyata telah memprediksikan banyak hal dan telah menyusun banyak rencana. Ia kembali mengutus malaekatNya untuk memboyong kami menuju Pracimantoro, karena jarak tempuh kami menuju kesana masih sangat jauh dan seandainya bila saat itu kami tak ditolongnya, q sebenarnya sudah memilih gua untuk bermalam (:P).
Tuhan tetap menginginkan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan. Dan kami memulai kembali perjalanan kami dari Pracimantoro menuju sendang. Ketika hari mulai gelap kami memutuskan untuk bermalam di salah satu rumah. Keluarga Pak Antok dan Bu Handayani, serta keluarga pak RT, mereka menerima kami. Di tempat pak Antok aq bermalam dan mengalami banyak pergolakan, q benar2 belajar untuk rendah hati. Ku belajar untuk sabar, dan belajar untuk tidak menyombongkan diri.
Ku memalsukan identitasku sebagai seorang penganguran yang ingin mencari kerja. Dan beginilah rasanya, aku benar-benar tidak dianggap, direndahkan dan disepelekan, seolah tidak bisa apa-apa dan bodoh. Seolah tak punya masa depan. Meskipun tetap menerima kami dengan hangat, namun q merasa, mereka memandangku sebelah mata. Entah apa jadinya bila mereka tahu yg sebenarnya. Q tahu bagaimana rasanya diperlakukan demikian, dan ku tak ingin bertindak demikian pada orang2 yang benar-benar pengangguran atau belum memiliki tujuan bagi hidup mereka.
But, all is well..
Karena lagi-lagi Tuhan memberiku penghiburan dan mencoba mengalihkan pikiran negatifq pada hal yang lebih positif. Di rumah pak Antok dan Bu Handayani, kami disuguhi pisang J. Aq ngidam… sepanjang jalan tadi q hanya bisa menatap, dan meratap dalam doaq,, dan Tuhan mengabulkanNya.. Tuhan baik ya.. J pisang yang q lihat masih hijau, sedangkan ini yang q makan, kuning, manis dan enak.. J ahahhahhhay… malam itu q tidur dengan nyenyak.. dan paginya, Tuhan masih membangunkanq dengan cara yang sama, mengutus malaekatNya.
Pagi harinya setelah sarapan dan berdoa bersama keluarga pak antok, kami berangkat untuk berjalan lagi, saat ini semua terasa berbeda, ku seolah merasa memiliki kekuatan ekstra untuk berjalan, karena merasa bahwa hari itu adalah kesempatan terakhirku mencapai tujuan ku, sendang ratu kenyo, dalam perjalanan ini, seperti biasa, merasa lelah, dan sedikit berambisi, sampai ku diingatkan oleh perkataan temanku “ Tujuan bukan semata-mata tujuan, kenapa harus memilih jalan pintas ketika yang kita penttingkan adalah prose situ?”
Yak.. dan kami tetap berjalan mengikuti jalur besar, yang lebih jauh dan panas itu,
Akhirnya, kami sampai juga.. aq awalnya sempat putus asa dan merasa perjalanan itu tak berujung, setelah kami berdoa, kami lalu pulang.
Aku merasakan, bahwa perlinungan Tuhan tak berhenti pada saat kami telah sampai di Sendang Ratu Kenya. Saat itu, bus sudah tidak terlihat melintas di depan sendang, dan kami putuskan untuk menumpang di mobil box, dan kami mendapatkan tumpangan menuju Giribelah. Dalam perjalanan ke Giribelah, q duduk menghadap belakang,, seolah me-rewind perjalananq. Pemandangan yang ku lihat sungguh luar biasa. Q seolah mampu memberi jawaban atas perasaan dan pertanyaan yang muncul ketika berada pada sebuah posisi atau titik yang telah q lalui itu. Memberikanq pemahaman pentingnya melihat kembali sejarah hidup. Untuk memberikan jawaban bagi masa lalu. Q lihat bukit itu menjadi tinggi, pohon-pohon menyatu dan tanjakan itu terlihat amat tinggi, itulah jalan yang aku lalui dan itulah bukit yang telah aku daki. Ternyata apa yang q lihat pada awalnya, tak seperti kenyataannya, aq bisa menjalaninya, menjalani sesuatu yang awalnya q kira mustahil.
Sampai di Giribelah, tak jua kami lihat bus jurusan Jogja melintas, tapi Tuhan masih berbaik hati, tak lama memberikan kami tumpangan, tak hanya sampai Praci, melainkan sampai Klaten, sehingga kami mendapatkan bus jurusan Jogja di sana. Sehingga kamipun bisa pulang ke OMI bersama kelompok lain yang kebetulan bertemu di shelter Trans Jogja.
Itulah Simulasi Peregrinasi yang aku alami, karena saat aku kembali pada keseharianku, perjalananku kembali di mulai, ku harap aku bisa lebih mengandalkan Tuhan dan menyadari bahwa Dia memanjakanku, menghiburku, menginspirasiku, menguatkan langkahku, menggenggam hatiku, mengejutkanku dengan caranya yang unik dan mengaryakan hidupku bagi kemuliaanNya yang lebih besar.
Terima kasih Tuhan Yesus, atas penyertaanMu..
Terima kasih Tia, Indra, Agus.. kalian teman seperjalanan yang amat hebat dan sangat luar biasa.
By: C.G.P.Amarta
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
